Karya Pesanan dari Bandung Philharmonic


Nagara Krtagama by Singgih Sanjaya

Premiered Minggu, 25 September 2016 @ Dago Tea House

"Diberi judul sesuai dengan sumber inspirasi, puisi simfoni Sanjaya, Nagara Krtagama mengeksplorasi banyak aspek dari medium orkestra. Seperti puisi abad keempat belas yang dibuat oleh Mpu Prapañca menceritakan tentang Kerajaan Majapahit Jawa Timur dan penaklukannya, karya ini disusun dengan membagi karya menjadi beberapa bagian dengan menghasilkan narasi yang terus berkembang. Nagara Krtagama menggambarkan momen-momen intens dan dramatis serta bagian-bagian melodius yang bernas sehingga mendorong karya ini sampai pada kulminasi dan akhir yang tak terelakkan."

Kurator
https://www.youtube.com/watch?v=cc6YsfbU4Eo


Es Lilin by Ni Mursih arr. Fauzie Wiriadisastra

Premiered Minggu, 25 September 2016 @ Dago Tea House

"Gubahan Wiriadisastra berasal dari lagu Sunda populer Ni Mursih, Es Lilin, menampilkan kacapi (kecapi), angklung, celo, dan orkestra. Aransemen ini oleh Bandung Philharmonic mewakili pentingnya keterlibatan masyarakat dalam orkestra. Es Lilin menampilkan angklung baru yang dibuat oleh maestro angklung Bandung, Handiman. Hasil dari kolaborasi ini adalah percampuran yang sentimental dan indah dari Sunda Indonesia dan media orkestra."

Kurator
https://www.youtube.com/watch?v=j0z1y_ITEqw


Borobudur by Budhi Ngurah

Premiered Sabtu, 14 Januari 2017 @ Dago Tea House

"Komposisi Borobudur berlatar belakang pada impresi saya terhadap candi Borobudur. Candi Borobudur memiliki tiga lapisan dari bawah ke atas, Kamadhatu, Rupadhatu dan Arupadhatu. Lapisan paling bawah bentuknya paling besar dan semakin ke atas semakin kecil. Oleh karena itu digunakan bentuk musikal yang panjang (Kolotomik), dengan tema yang diulang dengan perubahan yang kecil (unsur minimal)."

Budhi Ngurah
https://www.youtube.com/watch?v=ndJqLecP7H0


Beethoven di Bandung by Marisa Sharon Hartanto

Premiered Minggu, 30 April 2017 @ Gedung Budaya Sabilulung

"Karya ini terinspirasi dan merupakan respon musikal dari bagian pertama Simfoni Beethoven no 6. Karya ini ditulis bagi Bandung Philharmonic untuk konser bertema Beethoven ini dan untuk pertama kalinya ditampilkan di hadapan publik. Penulis mencoba mengimajinasikan apa yang mungkin Beethoven dengar bila seorang Ludwig van Beethoven sedang berjalan-jalan di Bandung, Jawa Barat. Mulai dari angin semilir, suara angklung, bunyi gamelan, suasana hujan tropis, nyanyian burung, jangkrik, bahkan kentongan dari penjual makanan keliling, dan ribut serta memusingkannya lalu lintas kota Bandung."

Marisa Sharon Hartanto
https://www.youtube.com/watch?v=f202sPThjbI


Suvenir dari Minangkabau by Arya Pugala Kitti

Premiered Rabu, 23 Agustus 2017 @ Dago Tea House
*  Pemenang dari Kompetisi Komposer muda Indonesia 2017

Suvenir Dari Minangkabau lahir dari semangat mengangkat kesenian rakyat Indonesia ke suatu ranah yang dapat diapresiasi secara lebih luas, sekaligus mengembangkan potensinya sebagai material musik orkestra. Karya ini memiliki hubungan semi-abstrak dengan musik tarian tradisional Minang, memperkenalkan warna-warna baru dan harmoni yang tergolong modern. Penggunaan 12 nada seperti pada tonalitas musik Barat -berbeda dengan musik aslinya- memungkinkan eksplorasi harmoni yang lebih ekspansif.

Suvenir dibuka dengan introduksi yang meriah dan bergembira, kemudian segera disambung oleh alat tiup yang membawa tema pertama, dengan implementasi motif ritmis yang energik dan beraksen, serta bertekstur polifonik. Bagian awal karya ini terinspirasi oleh karakteristik musik tarian Minang yang hidup dan meriah, dengan nuansa perkusi diciptakan oleh seksi-seksi orkestra secara bergantian. Setelah bagian awal ditutup dengan solo biola singkat, sebuah melodi baru yang terdengar kontemplatif muncul dari alat tiup dengan latar belakang petikan senar dari kelompok gesek. Kombinasi alat tiup ini dibuat untuk menghasilkan timbre yang meniru akordeon. Inspirasi bagian ini berasal dari musik lambat Minang yang penuh lirik, naratif, dan seringkali berisi petuah. Karya ini ditutup dengan harmoni yang padat, dituangkan dalam pola ritmis yang mengimitasi rebana.

Arya Pugala Kitti
https://www.youtube.com/watch?v=SNmZ5yyv6WM


Aki Manggul Awi by Tan De Seng arr. Fauzie Wiriadisastra

Premiered Sabtu, 27 Januari 2018 @ Hilton Bandung

"Aki Manggul Awi (" Orang Tua Mengangkut Bambu ") adalah salah satu dari Panambih Tembang Sunda karya Tan De Seng (Musik Klasik Sunda) yang kemudian disusun oleh Fauzie Wiriadisastra menjadi karya ensambel angin. Selain sebagai salah satu komposer / konduktor muda di Bandung, Wiriadisastra juga seorang multi-instrumentalis berbakat yang kecerdikannya dalam karya ini tampak nyata.

Meskipun tidak ada gong atau gamelan asli, karakteristik suara yang unik ini akan ditiru oleh instrumen lain dengan nada bahasa Sunda yang lengkap, Pelog Degung (musik Sunda), dan Cengkok (ornamen Sunda). Karya ini menggambarkan seorang pria tua yang bekerja sangat keras untuk memberi makan keluarganya. Di beberapa daerah terpencil di Indonesia, laki-laki berusia 70 tahun melintasi jalan berbahaya sambil mengangkut 100 kilogram benda berat di punggung mereka yang ringkih - dengan upah yang sangat sedikit. Mengerikan memang - tetap bukankah itu benar adanya pengorbanan adalah bentuk cinta bagi keluarga?"

Fauzie Wiriadisastra
https://www.youtube.com/watch?v=wlKhQ4omIE8


Krakatoa: Concerto for Viola and Orchestra by Stacy Garrop

Premiered Sabtu, 27 Januari 2018 @ Hilton Bandung
*  Didukung oleh Barlow Endowment untuk Komposisi Musik di Brigham Young University.

"Krakatau untuk solo viola, string, dan perkusi menceritakan jalan dari empat letusan utama gunung api. Dalam gerakan pertama, sebentar lagi terjadi, pemain biola dengan gelisah bermain sebagai orkestra (mewakili gunung berapi) menunjukkan tanda-tanda letupan yang semakin meningkat. Orkestra meletus ke dalam gerakan kedua, Letusan, di mana terjadi melalui empat letusan yang semakin dan semakin dahsyat. Setelah letusan terakhir dan paling ganas, pemain biola memainkan cadenza yang memudahkan gunung berapi masuk ke dalam gerakan ketiga, Dormant.

Gerakan terakhir, gunung berapi tertidur, dengan Anak Krakatau kecil yang terbentuk di bawah laut. Gerakan ini berakhir dengan damai dalam serangkaian harmonik string, mewakili matahari terbenam yang intens dan berwarna cemerlang yang dihasilkan oleh abu Krakatau di atmosfer bumi. Krakatau digubah oleh Barlow Endowment untuk Komposisi Musik di Universitas Brigham Young."

Stacy Garrop
https://www.youtube.com/watch?v=x1TPdwHLuMw


Gerbang Nias by Nathan Paul Iskandar

Premiered Sabtu, 28 April 2018 @ Dago Tea House

"'Gerbang Nias' terinspirasi dari tarian tradisional Nias 'Fame'e Afo', sebuah bentuk tarian 'penyambutan' untuk menyambut tamu. Tinggal di pulau Nias yang terletak di pantai barat Sumatera, Indonesia, suku Nias dikenal sebagai suku yang sangat menghargai tamu.

'Fame'e Afo', juga dikenal sebagai tarian "Sekapur Sirih" terkenal untuk motif tujuh not D-D-E-E-D-D-E yang dimainkan terus menerus sebagai pola dasar iringan untuk keseluruhan musiknya. Digubah pada tahun 2017, Iskandar tertarik untuk menyusun motif tujuh not tersebut menjadi enam not saja, yakni D-D-E-E-D-D, yang juga berfungsi sebagai pola dasar keseluruhan karya. Diorkestrasi dengan gaya klasik kontemporer, dirinya membawakan cita rasa modern unsur tradisional Indonesia ke abad 21, dengan harapan untuk mendorong pendengar muda Indonesia untuk mengapresiasi nilai-nilai tradisional Tanah Air mereka."

Nathan Paul Iskandar


Curated by Kevin Alexander Wilson